Senin 06-Sep-2010
Search 
 
PT. AHAD-NET Internasional
selamat datang di website ahadnet.com, komunitas online peduli produk halal dan thayyib. produk islami kualitas sangat baik, aman untuk dikonsumsi
Menu Utama
Berita
Artikel
Produk
Pendaftaran Online
Iklan
Polling
Tanggapan Anda mengenai UU Pornografi?

Sangat Setuju
Setuju
Biasa Saja
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju

   


Customer Care
LAMN Ahad-Net

021-5872247/48

Kami siap melayani Anda

Mitraniaga Berperingkat
A027166343
HJ. ST. ASTINA, BA
SLS-01
ABK
MAKASSAR
SULAWESI SELATAN

A027176587
HJ. NURSIANA
SLS-01
ABK
MAKASSAR
SULAWESI SELATAN

A027192367
HAMDANI/NURONA
ATRIUM
ABK
SINGKAWANG
KALIMANTAN BARAT

A027192627
SURYADI
ATRIUM
ABK
SINGKAWANG
KALIMANTAN BARAT

A027214447
SABIRIN/HENDAH MURIYANI S
ATRIUM
ABK
SINGKAWANG
KALIMANTAN BARAT

A027192774
ARIF RAHMAN S/TRULI PRIHATINI
ATRIUM
ABK
SINGKAWANG
KALIMANTAN BARAT


Periode-166


 

Versi CetakVersi Cetak
Introspeksi Diri

Posted By Admin

Setiap kita tentu pernah berbuat salah, melakukan dosa. Tapi, tak banyak di antara kita yang mau sibuk mengkalkulasi kesalahan-kesalahannya itu. Padahal, introspeksi diri, yakni mencoba menghitung jumlah kealpaan yang pernah kita perbuat baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, tidak kalah pentingnya dengan menjumlah kebaikan dan jasa yang kita lakukan. Introspeksi diri (tafakkur) itu, menurut ulama besar Mesir almarhum Abbas Mahmud al-Akkad, dalam agama hukumnya wajib. Rasulullah SAW sendiri berulangkali menekankan pentingnya bertafakkur sejenak yang, kata beliau, nilainya bisa melebihi ibadah setahun.

Lalu, bagaimanakah cara bertafakkur itu menurut agama? Para ulama menyatakan, dengan salat tahajud setelah lewat tengah malam. Sebelum salat tahajud, hendaknya didahului dengan salat taobat (tobat) dua rakaat. Setelah itu, barulah dimulai bertafakkur, bermuhasabah. Untuk bertafakkur atau bermuhasabah ini, Rasulullah juga terbiasa menggedor-gedor rumah Ali r.a. dan mengajaknya melakukan amalan sunat itu. Sedang tolok ukur untuk bermuhasabah itu, Nabi SAW menjelaskan: Barangsiapa kualitas hidupnya hari ini lebih baik dari kemarin, dialah orang yang beruntung. Barangsiapa kualitas hidupnya hari ini sama dengan kemarin, maka dia termasuk orang yang rugi. Dan barangsiapa kualitas hidupnya hari ini lebih buruk dari kemarin, maka terkutuklah dia.

Tidak bisa dibantah, bahwa dosa-dosa yang kita perbuat (kalau kita jujur mengkalkulasinya) pasti tidak sedikit. Dari yang (kelihatannya) remeh seperti berkata jorok, ngomongin orang lain, prasangka, bohong, pandangan buruk sampai yang lebih berat seperti ihwal kehalalan rezeki kita, manipulasi, saling menjatuhkan, dan lain-lain.

Menjadi orang yang tidak pernah bersalah tentu mustahil. Yang penting, kita tidak berputus asa dan segera bertobat setiap kali melakukan kesalahan. Rasulullah yang dikenal maksum (bersih diri) saja, menurut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Said dari Abu Hurairah, saban hari lebih 100 kali meminta pengampunan dari Allah SWT. Beliau mengatakan: Orang yang bertobat dari dosa, ibarat orang yang tidak punya dosa sama sekali (HR Ibnu Majah).

Abu Nawas, penyair istana Khalifah Harun al-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah pernah mengeluh bahwa dirinya tidaklah pantas masuk surga, tapi tidak kuat dimasukkan dalam neraka. Menjelang mayatnya dimandikan, di balik dadanya ditemukan bait-bait syair yang ia tulis sebelum wafat: Dosaku bak bilangan pasir, kesalahanku terus bertambah. Ilahi, bagaimana hamba memikulnya? -- ahi

Sumber: Republika Online, 7/8/09

Sabtu, 08 Agustus 2009 11:46:01

[ Kembali ]

Daftar Komentar
Komentar dari fani afnan jannaty   fanijannaty@yahoo.com
sungguh indah ini bila kita saling mengingatkan untuk intropeksi diri,allahu yahdikum wayahdini........amin
Diposting pada hari Sabtu, 05 Desember 2009 21:13:54

Hal 1

Input Komentar
Nama:
Website:
Email:
Komentar:
Kode Verifikasi: